(+62) 21 74863905 web@antarworld.co.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.

Already a member?

Login
(+62) 21 74863905 web@antarworld.co.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.

Already a member?

Login

Obyek Wisata yang Bersejarah di Kota Depok

Obyek wisata yang kami sajikan ini tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Depok, karena obyek wisata ini cukup dikenal dan kerap dikunjungi tak hanya warga Depok saja, tapi juga dari luar Depok. Masing-masing obyek wisata memiliki nilai sejarah tersendiri yang bisa digali lebih dalam lagi. Untuk itulah kami telah menghimpun enam obyek wisata bernilai sejarah dan edukasi di Depok yang patut diingat kembali, bahkan dikunjungi sesering mungkin agar terus melekat betapa bangganya menjadi warga Depok yang memiliki obyek wisata bernilai sejarah.

1. Godong Ijo
Godong Ijo merupakan tempat wisata yang menawarkan banyak program yang menyenangkan untuk para pengunjungnya. Beragam program menarik yang dapat diikuti, salah satunya adalah Young Greeners, yang dirancang untuk menghibur sekaligus merangsang anak-anak supaya lebih peduli terhadap lingkungan.
Dalam progam ini, terdapat pertunjukan life opera dengan tema “Stop Global Warming”, Fast Learning Camp atau disebut juga dengan kemah belajar super cepat yang merupakan perpaduan acara Mind Map, Super Memory, Succesful Learning Strategies, Brain Gymnastic, Brain Games, Outbond Games, Planting Class, dan Reptile Corner.
Tak hanya untuk anak-anak, Godong Ijo yang berlokasi di Jalan Cinangka Raya Km 10 No 60, Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, Sawangan, Depok ini juga menawarkan program-program untuk keluarga dan perusahaan. Sebut saja Company Gathering Package dan Family Gathering Package, yaitu penawaran yang memberikan program “play, green, and smart” karena terdapat berbagai jenis permainan yang mendidik dengan memperkenalkan berbagai jenis tanaman hias dan satwa langka koleksi khusus Godong Ijo. Selain itu juga ditambahkan tata cara dasar penanaman dan perawatan tanaman hias.
Obyek wisata peraih prestasi Amazing Garden se-Asia Tenggara ini juga mempunyai tanaman obat atau apotik hidup yang langka di pasaran, seperti koleksi terbaru dari Adenium Collection yang ditambahkan pada tahun 2010-2011. Bila Anda lelah dengan berbagai tanaman dan beraktivitas, Anda dapat bersantai di Botanical Cafe, di mana Anda dapat menyantap hidangan ala Indonesia dan Thailand sambil menikmati teduhnya alam.

2. Makam Keramat Beji
Makam atau Petilasan Mbah Raden Wujud Beji, merupakan bukti sejarah kehadiran tentara Islam yang banyak ditemukan di banyak tempat di Depok. Makam Keramat Beji atau Petilasan ini terletak di Jalan Kemiri Muka, Desa Kramat (Kramat Jaya), Kecamatan Beji, Depok. Secara geografis terletak pada koordinat 106° 48’614″ BT dan 06°23’089″ LS dengan ketinggian 324 m di atas permukaan laut.
Selain Makam atau Petilasan Mbah Raden Wujud Beji, di dalam sebuah bangunan yang dinaungi oleh kerimbunan pohon beringin, tersimpan peninggalan beberapa jenis senjata tentara Islam (Banten). Koleksi senjata tersebut tersusun rapi di samping Petilasan Mbah Raden Wujud Beji. Pada dinding di dalam bangunan makam tersebut tergantung beberapa untaian kata berisikan nasihat yang pernah diucapkan oleh Mbah Raden Wujud Beji. Pada tanggal 14, bulan Maulud, bangunan makam ini ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, seperti dari Banten dan Cirebon.
Ritual tertentu juga masih dijalankan oleh beberapa pengunjung yang sangat percaya dengan keberkahan tempat ini. Mandi di tujuh sumur yang tersebar di daerah sekitarnya merupakan ritual khas yang dijalankan beberapa peziarah. Sumur tujuh, sumur-sumur yang termasuk dalam tujuh sumur keramat, sebenarnya merupakan sebuah kolam mata air. Lima sumur di antaranya berada di bawah kerimbunan pohon beringin. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama sumur tujuh, namun kuncen penjaga sumur-sumur keramat, dan para peziarah, menyebut sumur keramat tersebut dengan nama “Sumur Tujuh Beringin Kurung”. Mungkin semula merupakan patirthan yang artinya dikeramatkan, di dekatnya pernah bermukim para ajar dan kaum pertapa. Cerita rakyat tentang cai kahuripan, air yang bersinar seperti emas, air yang dapat menyembuhkan orang sakit sampai sekarang masih dipercaya, oleh karena itu banyak orang datang berkunjung ke sumur-sumur keramat itu, bahkan dari luar Depok sekali pun, selain untuk berziarah ke makam kramat tersebut.
Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian pada tempat tersebut dengan memasukkannya ke dalam peta wisata Kota Depok, dan melakukan pemagaran terhadap sumur tersebut sebagai upaya pemeliharaan, yang diharapkan masyarakat tergugah untuk ikut menjaganya.
Makam Keramat Beji dapat merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran agama Islam di daerah Depok dan sekitarnya yang tetap diapresiasikan hingga sekarang, dijaga oleh juru kunci, dikeramatkan dan tidak sembarang waktu dapat dikunjungi. Masyarakat datang berkunjung di samping untuk wisata ziarah diharapkan akan dapat mengetahui mengenai tokoh Islam dan peranannya dalam penyebaran Islam di Kota Depok, maka situs ini sebaiknya diteliti agar dapat mengungkap peranan tokoh ini dalam perkembangan Islam di wilayah Depok.
Makam ini telah berkembang menjadi obyek wisata maka perlu didukung pembangunan sarana lahan parkir bagi para pengunjung, baik di tempat makam maupun di tempat pemandian (7 sumber air). Para pengunjung ke tempat 7 sumber air dan beringin dan kuncen, diharapkan dapat tidak mengganggu kegiatan keagamaan yang ada di masjid yang terletak di utaranya.

3. Masjid Kubah Mas
Masjid Dian Al Mahri ini diresmikan pada 31 Desember 2006, bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Adha 1427 H oleh pendirinya Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Drs H Maimun Al Rasyid. Masjid ini juga disebut sebagai Masjid Kubah Emas, sesuai dengan ciri khasnya, yaitu kubahnya yang berlapis emas.
Masjid yang berlokasi di Jalan Maruyung Raya, Depok ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan, yakni pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota atau pilar. Kedua, gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornamen kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah, dan ornamen dekoratif di atas mimbar mihrab. Dan yang ketiga, gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.
Masjid dengan luas 8.000 m2 ini berdiri di atas tanah seluas 70 hektar dan merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang diberi nama Kawasan Islamic Center Dian Al-Mahri. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara. Masjid ini mampu menampung 15.000 jamaah untuk pelaksanaan salat dan 20.000 jamaah untuk pelaksanaan majelis taklim. Ruang utama masjid berukuran 45 × 57 meter yang bisa menampung 8.000 jamaah. Masjid ini memiliki 6 minaret berbentuk segi enam yang tingginya masing-masing 40 meter. Keenam minaret ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India dan dibalut dengan mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya didatangkan dari Itali. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai warna langit pada waktu-waktu salat. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan bantuan komputer.
Kawasan Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri ini dalam perkembangannya telah menjelma sebagai salah satu tujuan wisata religi umat Islam. Kawasan ini setiap akhir pekan dan hari libur dikunjungi sekitar 50.000 jamaah.

4. Perkebunan Belimbing
Saat menyusuri sepanjang Jalan Pasir Putih, Sawangan, Depok pasti Anda akan disuguhi sepanjang pandangan hampir setiap rumah di kanan dan kiri jalan ditanami pohon Buah Belimbing Dewa dan Jambu Biji Merah. Mungkin ini yang menjadikan daerah ini layak dipasang gerbang bertuliskan Agrowisata Belimbing.
Terlebih jika kita mau masuk ke dalam daerah Pasir Putih ini, semakin sejuk dengan pemandangan kebun Belimbing Dewa dan Jambu Merah yang mendominasi tanaman di setiap rumah warganya. Sejak 29 Oktober 2007, belimbing menjadi salah satu ikon Kota Depok karena sangat cocok dengan kondisi tanah di wilayah ini. Saat ini ada sekitar 600 petani belimbing yang tersebar di enam kecamatan di Depok, dengan luas lahan rata-rata antara 500 meter hingga 3 hektar.
Lahan seluas 500 meter hanya bisa ditanami 16 hingga 20 pohon. Karena keterbatasan lahan inilah, upaya pengembangan belimbing di Depok menjadi tidak maksimal. Anda akan mendapatkan bahwa belimbing asal Depok memiliki banyak keunggulan. Selain rasanya manis, warnanya juga menarik (kuning kemerahan), dan ukurannya cukup besar. Tiap buah memiliki berat antara 150 gram-350 gram. Belimbing Depok bisa dipanen tiga kali dalam setahun dengan hasil mencapai 6.300 ton per tahun. Tidak salah apabila Depok sudah dikenal sebagai pusat perkebunan belimbing sejak lama.

5. Kampung 99 (Kampung Rusa)
Bila Anda merasa jenuh dengan suasana perkotaan, datanglah ke Kampung 99 Pepohonan, atau sering disebut juga dengan Kampung Rusa, tempat hunian sekaligus wisata bagi keluarga yang mengangkat konsep menyatu dengan alam yang berlokasi di Jalan KH Muhasan II, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Depok (seberang Mesjid Kubah Mas Dian Al Mahri). Di sini Anda dapat mengadakan acara khusus, seperti outbound untuk anak atau dewasa, arisan, family gathering, ulang tahun, menginap di rumah kayu, memancing, atau hanya untuk menikmati udara segar tanpa terganggu oleh bisingnya suara dan polusi asap kendaraan, serta makan makanan sehat di resto alami.
Nama 99 sendiri berawal dari kisah unik yang terjadi sekitar 30 bulan lalu. Konon siswa Taman Kanak-kanak di Jakarta sedang mengadakan wisata outbound dan pengenalan terhadap lingkungan di kampung itu, yang rencananya akan diikuti oleh 100 anak. Akan tetapi satu orang tidak hadir, maka bibit pohon gmelina yang ditanam hanya 99 batang. Itulah asal mula nama tersebut. Sedangkan nama Kampung Rusa berasal dari salah satu hewan yang dipelihara, yaitu rusa jenis Timorensis. Selain itu, di sini juga terdapat kambing Etawa, sapi, kerbau, tupai, burung, dan ayam mutiara. Beragam macam pohon pun ada, seperti Pohon Maja, Trembesi, Jati Putih, Rengas, Kemang, Karet, dan masih banyak lagi pohon langka lainnya. Banyak kegiatan bertema lingkungan yang edukatif dan menghibur yang bisa dilakukan di Kampung 99. Beberapa kegiatan itu antara lain adalah mengenal tumbuhan, termasuk bagaimana menanam pohon, memanen padi dan sayur-mayur, memberi makan ternak, memandikan kerbau, dan membajak sawah bersama petani.
Anak-anak juga bisa mencoba membuat roti tradisional dan modern, memasak sayur dan lauk bersama. Bahkan beberapa permainan outbound, seperti flying fox, spider web, dan naik sampan di sungai juga bisa dilakukan, yang bisa membuat liburan Anda bersama keluarga semakin ceria.

6. Kawasan Bangunan Kolonial
Kawasan bangunan kolonial merupakan tempat bersejarah di Kota Depok. Bangunan-bangunan masa Kolonial, misalnya Gereja Immanuel di Jalan Pemuda, Depok lama; Jembatan Panus yang melintas Sungai Ciliwung menghubungi Depok Lama dan Depok II; Pondok Cina di Jalan Margonda yang sekarang menjadi “ornamen” Margo City, dan bekas rumah Tuan Tanah Cimanggis (km 34 jalan ke arah Bogor).
Kawasan bangunan kolonial Depok mudah dicapai dari tengah kota ±15-30 menit dengan kendaraan umum dengan akses jalan yang cukup memadai dan kualitas yang cukup baik, lingkungan terjaga bersih dan asri. Pada masa kolonial ketika Depok mulai dihuni orang-orang Belanda, peninggalan yang bertahan hingga sekarang lebih banyak jenisnya, ada yang merupakan rumah hunian, gereja, sekolah, perkantoran, jembatan, dan lain-lain, jenis itulah yang penting dikaji lebih lanjut apabila diasosiasikan dengan upaya pengembangan pariwisata budaya.
Beberapa rumah tinggal bergaya arsitektur Indis yang terletak di daerah Depok Lama. Menurut Steadmen (1979), bangunan bergaya arsitektur Indis (Indisch Stijl) mempunyai ciri: (1) bangunan sudah beradaptasi dengan iklim tropis sehingga mengikuti ciri arsitektur tradisional Jawa, (2) denah bangunan luas melebar tidak memanjang, (3) dilengkapi teras (beranda) di bagian depan rumah, dan (4) atap bangunan lebar sehingga sebagian menaungi bagian halaman tepian rumah. Depok masa kolonial, sejak tahun 1683 keadaan di Jawa Barat khususnya wilayah Banten dan Batavia sudah tenang. Tahun itu adalah tahun kejayaan VOC karena dengan jatuhnya Banten di bawah pengaruh VOC berakhir sudah masa perlawanan kerajaan-kerajaan besar di Asia Tenggara.
Untuk menjamin ketenangan tersebut didirikan benteng Speelwijk di Banten (1685) untuk membungkam Banten dari percaturan dunia internasional. Sejak saat itu VOC mulai bertindak sebagai pengatur pemerintahan di Nusantara dan sejak saat itu pula orang Belanda mulai berani berusaha jauh di luar tembok Batavia. Di beberapa tempat sudah mulai dibangun villa-villa (landhuis) antara lain Pondok Gede, Cimanggis, Tanjung Oost, dan Depok. Banyak Cina Banten menjadi pemiliki tanah partikelir yang luas. Antara lain Tio Thiong Kho yang menjual sebagian tanahnya kepada Cornelis Chastelein.
Di Jalan Pemuda cukup banyak bangunan kolonial dengan arsitektur Eropa, baik berupa rumah tinggal dan sarana pendidikan berupa sekolah, tertata dengan rapih dan asri, karena itu sangat menjajikan bila kawasan ini dikembangkan sebagai kawasan kuliner dan fashion (pertokoan baju). Wisata kuliner dengan nuansa Eropa dan Betawi yang buka pada jam-jam tertentu, sekitar pukul 16.00-22.00 WIB. Sedangkan bagi yang rumahnya dikembangkan sebagai kuliner yang menjajakan makanan (jajanan) tradisional dapat buka mulai pukul 10.00 -22.00 WIB.
Sedangkan fashion, terutama pada rumah-rumah yang memiliki ornamen dan komponen yang relatif masih dipertahankan dengan kuat serta memiliki ruang cukup memadai dengan tanpa merubah yang berarti seperti tetap mempertahankan penggunaan cat bangunan, atap, tampak muka bangunan dan ornamen dan komponen bangunan.

 

By : A.s

 

Print Friendly, PDF & Email

Related posts:

Leave a Reply